-->
Dulu, Agang.id itu lahir dari niat sederhana:
kami cuma pengen jualan angkringan. Tempat nongkrong santai, nasi kucing, gorengan, teh anget tempat orang pulang kerja bisa duduk lesehan dan cerita hidup.
Kami nemu satu lokasi yang menurut kami strategis banget. Pinggir jalan, ramai, kelihatan jelas dari orang lewat. Rasanya kayak,
“Ini tempat rezeki kita.”
Dengan penuh semangat, kami mulai bersih-bersih area itu. Sampah kami angkat, rumput liar kami potong. Bahkan kami keluar uang buat renovasi kecil dan cat tembok biar keliatan hidup lagi. Kami sampai sewa tukang, beli cat merah, dan pelan-pelan tempat itu mulai berubah dari yang kumuh jadi enak dipandang.
Kami ngerasa bangga.
Ngerasa kayak lagi bangun mimpi dari nol.
Tapi di situlah kami bikin kesalahan besar.
Kesalahan yang Bikin Kami Melek
Kami terlalu percaya pada omongan seseorang yang kami anggap “punya kuasa” di sekitar situ.
Kami pikir dia pemilik lahan. Kami pikir dengan restunya, semuanya aman.
Kami tidak mengurus izin resmi.
Tidak ke RT.
Tidak ke RW.
Tidak tanya ke kelurahan.
Kami cuma pegang keyakinan:
“Udah ada orang dalam, aman.”
Ternyata… hidup nggak jalan pakai asumsi.
Saat proses pengecatan hampir selesai, kami diperhatikan oleh pihak kelurahan. Lurah datang dan menegur kami.
Beliau bilang dengan tegas:
“Kalian tidak boleh jualan di sini tanpa perizinan. Lokasi ini sudah ada rencana pemerintah. Di sini akan dibangun kontainer untuk kebutuhan pemerintahan.”
Rasanya?
Hancur.
Campur aduk antara malu, kecewa, bingung, dan nyesek lihat uang yang sudah keluar.
Tempat yang tadinya kami lihat sebagai awal masa depan, tiba-tiba berubah jadi pelajaran paling keras.
Hari itu kami pulang bukan bawa hasil, tapi bawa kesadaran.
Kami sadar:
Niat baik saja tidak cukup
Modal nekat saja tidak cukup
Restu “katanya” tidak cukup
Kalau mau usaha di tempat mana pun, izin itu wajib.
Pemilik lahan jelas siapa.
RT & RW harus tahu.
Kelurahan harus tahu.
Karena usaha bukan cuma soal jualan, tapi soal hidup berdampingan dengan aturan dan masyarakat.
Daripada menyerah, kami mikir ulang.
Kalau angkringan belum bisa jalan… apa yang bisa jalan tanpa ribet lokasi besar dan izin tempat nongkrong?
Di situlah lahir keputusan baru.
Kami beralih ke jualan rice bowl dan Taiwan chicken.
Konsepnya lebih fleksibel. Bisa mulai dari skala kecil. Bisa fokus ke rasa, branding, dan penjualan online.
Dan justru dari situ…
Agang.id mulai menemukan jalannya sendiri.
Dulu, Agang.id itu lahir dari niat sederhana:
kami cuma pengen jualan angkringan. Tempat nongkrong santai, nasi kucing, gorengan, teh anget — tempat orang pulang kerja bisa duduk lesehan dan cerita hidup.
Kami nemu satu lokasi yang menurut kami strategis banget. Pinggir jalan, ramai, kelihatan jelas dari orang lewat. Rasanya kayak,
“Ini tempat rezeki kita.”
Dengan penuh semangat, kami mulai bersih-bersih area itu. Sampah kami angkat, rumput liar kami potong. Bahkan kami keluar uang buat renovasi kecil dan cat tembok biar keliatan hidup lagi. Kami sampai sewa tukang, beli cat merah, dan pelan-pelan tempat itu mulai berubah dari yang kumuh jadi enak dipandang.
Kami ngerasa bangga.
Ngerasa kayak lagi bangun mimpi dari nol.
Tapi di situlah kami bikin kesalahan besar.
Kami terlalu percaya pada omongan seseorang yang kami anggap “punya kuasa” di sekitar situ.
Kami pikir dia pemilik lahan. Kami pikir dengan restunya, semuanya aman.
Kami tidak mengurus izin resmi.
Tidak ke RT.
Tidak ke RW.
Tidak tanya ke kelurahan.
Kami cuma pegang keyakinan:
“Udah ada orang dalam, aman.”
Ternyata… hidup nggak jalan pakai asumsi.
Saat proses pengecatan hampir selesai, kami diperhatikan oleh pihak kelurahan. Lurah datang dan menegur kami.
Beliau bilang dengan tegas:
“Kalian tidak boleh jualan di sini tanpa perizinan. Lokasi ini sudah ada rencana pemerintah. Di sini akan dibangun kontainer untuk kebutuhan pemerintahan.”
Rasanya?
Hancur.
Campur aduk antara malu, kecewa, bingung, dan nyesek lihat uang yang sudah keluar.
Tempat yang tadinya kami lihat sebagai awal masa depan, tiba-tiba berubah jadi pelajaran paling keras.
Hari itu kami pulang bukan bawa hasil, tapi bawa kesadaran.
Kami sadar:
Niat baik saja tidak cukup
Modal nekat saja tidak cukup
Restu “katanya” tidak cukup
Kalau mau usaha di tempat mana pun, izin itu wajib.
Pemilik lahan jelas siapa.
RT & RW harus tahu.
Kelurahan harus tahu.
Karena usaha bukan cuma soal jualan, tapi soal hidup berdampingan dengan aturan dan masyarakat.
Daripada menyerah, kami mikir ulang.
Kalau angkringan belum bisa jalan… apa yang bisa jalan tanpa ribet lokasi besar dan izin tempat nongkrong?
Di situlah lahir keputusan baru.
Kami beralih ke jualan rice bowl dan Taiwan chicken.
Konsepnya lebih fleksibel. Bisa mulai dari skala kecil. Bisa fokus ke rasa, branding, dan penjualan online.
Dan justru dari situ…
Agang.id mulai menemukan jalannya sendiri.
Kesalahan itu sekarang jadi prinsip tetap kami:
Sebelum jualan di mana pun, izin dulu.
Hormati pemilik tempat.
Hormati warga sekitar.
Hormati aturan wilayah.
Karena bisnis yang mau besar, harus dibangun dengan cara yang benar dari awal.
Tembok merah yang dulu kami cat dengan harapan…
sekarang jadi pengingat bahwa kegagalan pertama Agang.id bukan akhir cerita tetapi fondasi cara berpikir kami hari ini.