-->

My Blog

Latest blog


Firman Syah
240907502005
BISDIG A











Tahapan dalam Membuat Desain Iklan
1. Brainstorming
Tahap awal untuk mengumpulkan ide dan inspirasi. Pada proses ini, biasanya dicari kata kunci, konsep visual, dan pesan utama yang ingin disampaikan. Tujuannya adalah menemukan arah yang jelas sebelum masuk ke tahap pembuatan.
2. Membuat Sketsa
Setelah ide terkumpul, langkah selanjutnya adalah menuangkan ide ke dalam bentuk sketsa kasar. Sketsa berfungsi untuk menentukan komposisi, tata letak produk, logo, teks, dan elemen lainnya. Sketsa tidak harus detail, tapi cukup untuk menjadi panduan.
3. Eksekusi Desain
Pada tahap ini, sketsa diolah menjadi desain akhir menggunakan software desain grafis. Warna, tipografi, foto produk, dan elemen brand ditambahkan agar desain terlihat rapi, menarik, dan profesional. Hasil akhirnya adalah desain iklan yang siap dipublikasikan.









            









Kesuksesan di tentukan 80% oleh otak bawah sadar , sering muncul dalam konteks psikologi modern , neorosains terapan, dan ilmu pengembangan diri . Meskipun angka 80% bukan data eksak ilmiah , maknanya bersumber dari pemahaman ilmiah tentang cara kerja otak manusia , terutama hubungan antara pikiran sadar dan bawah sadar dalam bentuk perilaku ,keputusan , dan hasil hidup seseorang.

Mari kita jelaskan secara ilmiah dan deskriptif 

1 . Struktur pikiran : sadar vs bawah sadar

Secara umum ,pikiran manusia terbagi menjadi dua lapisan besar

Pikiran sadar (subconscious mind ) : bagian yang bekerja otomatis dan menyimpan kebiasaan , kepercayaan , emosi , memori , serta reaksi instingtif. Inilah mesin yang menjalankan sebagian besar perilaku manusia (sekitar 90-95% aktivitas mental)

Artinya : sebagian tindakan kita sehari-hari mulai dari cara berpikir , berbicara , bereaksi , hingga membuat keputusan , sebenarnya digerakan oleh pola bawah sadar yang telah terbentuk sebelumnya

 2 . Peran Otak bawah Sadar dalam kesuksesan

Dalam kontek kesuksesan pribadi atau profesional , otak bawah sadar memainkan peran kunci karena :

▪️ Pembentuk keyakinan dan identitas diri

Keyakinan seperti saya mampu atau saya tidak cukup baik tersimpan di bawah sadar.
Neurosains menunjukan bahwa keyakinan membentuk persepsi dan perilaku.
Jika bawah sadar percaya pada potensi diri , maka seseorang akan bertindak dengan yakin dan konsisten.

▪️ Pengendali kebiasaan 

Kesuksesan tidak datang dari tindakan satu kali, tapi dari kebiasaan berulang .
Dan kebiasaan itu di simpan serta di jadikan otomatis oleh bawah sadar.
Contoh : disiplin , fokus , pantang menyerah , semuanya adalah pola bawah sadar yang bila di program.

▪️ Filter persepsi realitas 

Otak bawah sadar menggunakan sistem yang di sebut reticular activating system (RAS)--semacam filter perhatian 
RAS memfokuskan perhatian kita hanya pada hal-hal yang di anggap penting oleh bawah sadar.
Jika bawah sadar terprogram untuk "peluang" . Jika terprogram "ketakutan" atau "kegagalan" , maka otak justru menarik hal-hal serupa.

3 . Penjelasan Neurosains 

Dalam study Neurosains dan psikologi kognitif:
Kebanyakan keputusan manusia di buat secara otomatis , bahkan sebelum kita menyadarinya 

Neural pathways di otak terbentuk berdasarkan pengalaman berulang .
Semakin sering seseorang memikirkan sesuatu , semakin kuat jalur sarafnya itulah yang di sebut neuroplasticity.

Otak bawah sadar beroperasi di luar kesadaran , tapi mempengaruhi 80-95% perilaku ,respons emosi dan keputusan hidup.

Dengan kata lainb, sukses bukan hanya hasil kerja keras sadar , tapi hasil dari program bawah sadar yang mendukung arah tujuan.

 4 . Implikasi Praktis 

Untuk mengubah hasil hidup , seseorang perlu menyelaraskan bawah sadarnya dengan tujuannya , lewat:

▪️Self-talk positif dan afirmasi
▪️Visualisasi terarah
▪️Hipnoterapi / meditasi kesadaran
▪️Repetisi kebiasaan produktif 
▪️Lingkungan yang mendukung pola pikir sukses

Dengan cara ini , otak bawah sadar, akan menjadi mesin otomatis yang mengarahkan seseorang menuju kesuksesan tanpa banyak perlawanan internal .






 

Dulu, Agang.id itu lahir dari niat sederhana:
kami cuma pengen jualan angkringan. Tempat nongkrong santai, nasi kucing, gorengan, teh anget tempat orang pulang kerja bisa duduk lesehan dan cerita hidup.

Kami nemu satu lokasi yang menurut kami strategis banget. Pinggir jalan, ramai, kelihatan jelas dari orang lewat. Rasanya kayak,

“Ini tempat rezeki kita.”

Dengan penuh semangat, kami mulai bersih-bersih area itu. Sampah kami angkat, rumput liar kami potong. Bahkan kami keluar uang buat renovasi kecil dan cat tembok biar keliatan hidup lagi. Kami sampai sewa tukang, beli cat merah, dan pelan-pelan tempat itu mulai berubah dari yang kumuh jadi enak dipandang.

Kami ngerasa bangga.
Ngerasa kayak lagi bangun mimpi dari nol.

Tapi di situlah kami bikin kesalahan besar.

Kesalahan yang Bikin Kami Melek

Kami terlalu percaya pada omongan seseorang yang kami anggap “punya kuasa” di sekitar situ.
Kami pikir dia pemilik lahan. Kami pikir dengan restunya, semuanya aman.

Kami tidak mengurus izin resmi.
Tidak ke RT.
Tidak ke RW.
Tidak tanya ke kelurahan.

Kami cuma pegang keyakinan:

“Udah ada orang dalam, aman.”

Ternyata… hidup nggak jalan pakai asumsi.

Saat proses pengecatan hampir selesai, kami diperhatikan oleh pihak kelurahan. Lurah datang dan menegur kami.

Beliau bilang dengan tegas:

“Kalian tidak boleh jualan di sini tanpa perizinan. Lokasi ini sudah ada rencana pemerintah. Di sini akan dibangun kontainer untuk kebutuhan pemerintahan.”

Rasanya?
Hancur.
Campur aduk antara malu, kecewa, bingung, dan nyesek lihat uang yang sudah keluar.

Tempat yang tadinya kami lihat sebagai awal masa depan, tiba-tiba berubah jadi pelajaran paling keras.

Titik Balik Agang.id

Hari itu kami pulang bukan bawa hasil, tapi bawa kesadaran.

Kami sadar:

  • Niat baik saja tidak cukup

  • Modal nekat saja tidak cukup

  • Restu “katanya” tidak cukup

Kalau mau usaha di tempat mana pun, izin itu wajib.
Pemilik lahan jelas siapa.
RT & RW harus tahu.
Kelurahan harus tahu.

Karena usaha bukan cuma soal jualan, tapi soal hidup berdampingan dengan aturan dan masyarakat.

Daripada menyerah, kami mikir ulang.
Kalau angkringan belum bisa jalan… apa yang bisa jalan tanpa ribet lokasi besar dan izin tempat nongkrong?

Di situlah lahir keputusan baru.

Kami beralih ke jualan rice bowl dan Taiwan chicken.
Konsepnya lebih fleksibel. Bisa mulai dari skala kecil. Bisa fokus ke rasa, branding, dan penjualan online.

Dan justru dari situ…
Agang.id mulai menemukan jalannya sendiri.

Dulu, Agang.id itu lahir dari niat sederhana:
kami cuma pengen jualan angkringan. Tempat nongkrong santai, nasi kucing, gorengan, teh anget — tempat orang pulang kerja bisa duduk lesehan dan cerita hidup.

Kami nemu satu lokasi yang menurut kami strategis banget. Pinggir jalan, ramai, kelihatan jelas dari orang lewat. Rasanya kayak,

“Ini tempat rezeki kita.”

Dengan penuh semangat, kami mulai bersih-bersih area itu. Sampah kami angkat, rumput liar kami potong. Bahkan kami keluar uang buat renovasi kecil dan cat tembok biar keliatan hidup lagi. Kami sampai sewa tukang, beli cat merah, dan pelan-pelan tempat itu mulai berubah dari yang kumuh jadi enak dipandang.

Kami ngerasa bangga.
Ngerasa kayak lagi bangun mimpi dari nol.

Tapi di situlah kami bikin kesalahan besar.

Kesalahan yang Bikin Kami Melek

Kami terlalu percaya pada omongan seseorang yang kami anggap “punya kuasa” di sekitar situ.
Kami pikir dia pemilik lahan. Kami pikir dengan restunya, semuanya aman.

Kami tidak mengurus izin resmi.
Tidak ke RT.
Tidak ke RW.
Tidak tanya ke kelurahan.

Kami cuma pegang keyakinan:

“Udah ada orang dalam, aman.”

Ternyata… hidup nggak jalan pakai asumsi.

Saat proses pengecatan hampir selesai, kami diperhatikan oleh pihak kelurahan. Lurah datang dan menegur kami.

Beliau bilang dengan tegas:

“Kalian tidak boleh jualan di sini tanpa perizinan. Lokasi ini sudah ada rencana pemerintah. Di sini akan dibangun kontainer untuk kebutuhan pemerintahan.”

Rasanya?
Hancur.
Campur aduk antara malu, kecewa, bingung, dan nyesek lihat uang yang sudah keluar.

Tempat yang tadinya kami lihat sebagai awal masa depan, tiba-tiba berubah jadi pelajaran paling keras.

Titik Balik Agang.id

Hari itu kami pulang bukan bawa hasil, tapi bawa kesadaran.

Kami sadar:

  • Niat baik saja tidak cukup

  • Modal nekat saja tidak cukup

  • Restu “katanya” tidak cukup

Kalau mau usaha di tempat mana pun, izin itu wajib.
Pemilik lahan jelas siapa.
RT & RW harus tahu.
Kelurahan harus tahu.

Karena usaha bukan cuma soal jualan, tapi soal hidup berdampingan dengan aturan dan masyarakat.

Daripada menyerah, kami mikir ulang.
Kalau angkringan belum bisa jalan… apa yang bisa jalan tanpa ribet lokasi besar dan izin tempat nongkrong?

Di situlah lahir keputusan baru.

Kami beralih ke jualan rice bowl dan Taiwan chicken.
Konsepnya lebih fleksibel. Bisa mulai dari skala kecil. Bisa fokus ke rasa, branding, dan penjualan online.

Dan justru dari situ…
Agang.id mulai menemukan jalannya sendiri.

Pelajaran yang Mengubah Cara Kami Berbisnis

Kesalahan itu sekarang jadi prinsip tetap kami:

Sebelum jualan di mana pun, izin dulu.
Hormati pemilik tempat.
Hormati warga sekitar.
Hormati aturan wilayah.

Karena bisnis yang mau besar, harus dibangun dengan cara yang benar dari awal.

Tembok merah yang dulu kami cat dengan harapan…
sekarang jadi pengingat bahwa kegagalan pertama Agang.id bukan akhir cerita tetapi fondasi cara berpikir kami hari ini.


Contact Me

Contact With Me

  • Jalan Pendidikan
  • 082kapan"ber2
  • Firmansyah.mks2006@gmail.com
  • knowlagi.my.id